[Siaran Pers Bersama] 36 Organisasi Masyarakat Sipil Laporkan Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian


Joint Press Release
36 Civil Society Organisations Report Deputy for the Coordination of Food and Agriculture[1]
21 August 2019

Jakarta, 21st of August 2019. 36 civil society organisations reported Musdhalifah Machmud, Deputy for the Coordination of Food and Agriculture to the Coordinating Minister for the Economy, Darwin Nasution on Wednesday, 21st of August 2019. The report was in connection with the issuance of Letter Number: TAN.03.01/265/D. II.M.EKON/05/2019 dated on the 6th of May 2019, concerning Data and Information related to Palm Oil Plantation.

“The deputy letter was used as an excuse for several Public Bodies to refuse to provide public information. In Jambi for example, a request for information by our researcher was denied by the Plantation Office, on the basis of the Deputy’s Letter. Obviously this is a violation of procedure,” explained Henri Subagiyo, Director of the Indonesian Center for Environmental Law (ICEL).
Although not explicitly addressed to Ministries/Institutions or Regions, the information contained in point 3 of the letter does indeed appear to provide direction to the Ministries/Institutions and Regional Governments to determine data and information regarding the Land Cultivation Rights (HGU) of palm oil plantations (in the form holder name, map and location) as information excluded. The directive is reiterated in point 4 which asks Ministries/Institutions and Regional Governments not to make initiatives to make agreements with other parties in providing data and information related to palm oil plantations.

“We urge the Coordinating Minister for the Economy to give instructions to all of his staff to comply with the provisions of Law No. 14 of 2008 concerning Public Information Disclosure (KIP Law). The KIP Law states that HGU information along with supporting documents are open information. This has also been decided by the Supreme Court in the information dispute between Forest Watch Indonesia and the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (ATR/BPN),” added Ahmad Hanafi, Director of the Indonesian Parliamentary Center (IPC). 
Desiana Samosir (Activist of the Freedom of Information Network Indonesia-FOINI Coalition) said, “The Deputy’s letter is against the law and must be revoked. Constitutional violations of access to information cannot be tolerated.”
In their demands, 36 civil society organisations urged the Coordinating Minister for the Economy to:
a.       To revoke and cancel the Deputy Letter for the Coordination of Food and Agriculture Number: TAN.03.01/265/D.II.M.EKON/05/2019 dated on the 6th of May 2019.
b.      Instruct relevant ministries/agencies and regional governments to obey the Supreme Court’s decision regarding HGU information.
c.       Comply with the information exclusion mechanism as regulated in the Public Information Disclosure Act (KIP Law), by conducting a Consequency Test mechanism before deciding on information exemption by the Information Management and Documentation Officer (PPID), including determining the retention period for information exemptions based on PP No.61 of 2010 about the implementation of the KIP Law.
d.      Instruct PPID (Information and Documentation Management Officer) relevant ministries/agencies and regional governments to classify, and determine data and information about HGU of palm oil plantations (name of holder, map, and location) as information that can be given to the public and put it in the List of Public Information.
e.       Instruct the Superior of PPID (Information and Documentation Management Officer) Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency to comply with and implement Central Information Commission Decision Number: 057/XII/KIP-PS-MA/2015, Jakarta District Court Decision Number: 2/G/KI/2016/PTUN-JKT, and Supreme Court Decision Number: 121 K/TUN/2017 to provide administrative documents related to HGU (name of HGU permit holder, place or location, area of ​​HGU granted, type of commodity, and a map of the HGU area complete with coordinates) to Forest Watch Indonesia, as well as opening access to that information to the wider community.

Furthermore, the 36 organisations asked the Coordinating Minister for the Economy to cancel the Deputy Letter within 10 (ten) working days. If not, civil society organisations will take other legal remedies guaranteed by legislation.
List of Civil Society Organisations

Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Indonesian Parliamentary Center (IPC), Indonesian Forum for Budget Transparency (FITRA) of North Sumatra, Indonesian Forum for Budget Transparency (FITRA) Riau, Clinic for Public Information Openness Univ. Islam Indonesia, Association of Initiatives, Institute for Community Study and Advocacy (ELSAM), Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Greenpeace Indonesia, Association of HUMA, BUMI Foundation, PLH North Kalimantan, North Kalimantan Environmental Advocacy Institute (Lalingka), Mining Advocacy Network (Jatam), AMAN Bengsibas (Bengkayang, Singkawang, Sambas), Green Landscape Institute (LemBAH), North Kalimantan Environmental Care Association, SAMPAN Kalimantan, Kalimantan Legal Aid Association (PBHK), Bela Banua Talino Institute (LBBT), Aceh Transparency Society (MaTA), Indonesian Forum National Secretariat for Budget Transparency (FITRA), Borneo Initiative, Mitra Insani Foundation (YMI), JIKALAHARI Riau, East Kalimantan Environmental Advocacy Network, West Kalimantan JARI, ELPAGAR West Kalimantan, Regional Study and Information Centre (PATTIRO), West Kalimantan Gemawan Institute, Community Solidarity for NTB Transparency, Circle of Advocacy and Research (Linkar)s West Kalimantan Borneo, KOMIU Central Sulawesi, KIPRA Jayapura Foundation, Alliance of Indigenous Peoples of the Archipelago (AMAN), Medialink.

Contact Person:

Henri Subagiyo (0815 8574 1001)
Ahmad Hanafi (0811 9952 737)
==============================================================

[Siaran Pers Bersama] 36 Organisasi Masyarakat Sipil Laporkan Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian

21 Agustus 2019

Jakarta, 21 Agustus 2019.  36 organisasi masyarakat sipil melaporkan Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian kepada Menteri Koordinator Perekonomian, Darwin Nasution pada Rabu, 21 Agustus 2019. Laporan tersebut sehubungan dengan penerbitan Surat Nomor: TAN.03.01/265/D.II.M.EKON/05/2019 tertanggal 6 Mei 2019, perihal Data dan Informasi terkait Kebun Kelapa Sawit.
“Surat Deputi tersebut dijadikan alasan beberapa Badan Publik untuk menolak memberikan informasi publik. Di Jambi misalnya, permohonan informasi oleh peneliti kami ditolak Dinas Perkebunan, atas dasar Surat Deputi tersebut. Jelas ini merupakan pelanggaran prosedur,“ jelas Henri Subagiyo, Direktur Indonesian Center for Environmental Law (ICEL).
Meski tidak ditujukan secara eksplisit kepada Kementerian/Lembaga atau Daerah, informasi yang tertuang dalam poin ke-3 surat tersebut memang terkesan memberikan arahan kepada Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah untuk menetapkan data dan informasi mengenai Hak Guna Usaha (HGU) kebun kelapa sawit (berupa nama pemegang, peta, dan lokasi) sebagai informasi dikecualikan. Arahan tersebut kembali ditegaskan dalam poin ke-4 yang meminta Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah untuk tidak melakukan inisiatif membuat kesepakatan dengan pihak lain dalam pemberian data dan informasi yang terkait dengan kebun kelapa sawit.

“Kami mendesak Menteri Koordinator Perekonomian untuk memberikan instruksi kepada seluruh jajarannya agar tunduk terhadap ketentuan UU No 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). UU KIP menyatakan informasi HGU beserta dokumen pendukungnya adalah informasi terbuka. Hal ini juga telah diputus oleh Mahkamah Agung dalam sengketa informasi antara Forest Watch Indonesia dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN),“ tambah Ahmad Hanafi, Direktur Indonesian Parliamentary Center (IPC).
Desiana Samosir (Pegiat Koalisi Freedom of Information Network Indonesia-FOINI) menuturkan, “Surat Deputi tersebut bertentangan dengan hukum dan harus dicabut. Pelanggaran konstitusional atas akses informasi, tidak dapat dibiarkan.”
Dalam tuntutannya, 36 organisasi masyarakat sipil mendesak Menteri Koordinator Perekonomian untuk:
a. Mencabut dan membatalkan Surat Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Nomor: TAN.03.01/265/D.II.M.EKON/05/2019 tertanggal 6 Mei 2019.
b. Menginstruksikan kepada kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terkait untuk menaati putusan Mahkamah Agung tentang informasi HGU.
c. Menaati mekanisme pengecualian informasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), dengan melakukan mekanisme Uji Konsekuensi sebelum memutuskan pengecualian informasi oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID), termasuk menentukan masa retensi pengecualian informasi berdasarkan PP No.61 Tahun 2010 tentang pelaksanaan UU KIP.
d. Menginstruksikan kepada PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terkait untuk mengklasifikasikan, serta menetapkan data dan informasi mengenai HGU kebun kelapa sawit (nama pemegang, peta, dan lokasi) sebagai informasi yang dapat diberikan kepada publik dan memasukkannya ke dalam Daftar Informasi Publik.
e. Menginstruksikan kepada Atasan PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional untuk mematuhi dan melaksanakan Putusan Komisi Informasi Pusat Nomor: 057/XII/KIP-PS-M-A/2015, Putusan Pengadilan TUN Jakarta Nomor: 2/G/KI/2016/PTUN-JKT, serta Putusan Mahkamah Agung Nomor: 121 K/TUN/2017 untuk memberikan dokumen administratif yang berhubungan dengan HGU (nama pemegang izin HGU, tempat atau lokasi, luas HGU yang diberikan, jenis komoditi, dan peta areal HGU yang dilengkapi dengan koordinat) kepada Forest Watch Indonesia, serta membuka akses terhadap informasi tersebut kepada masyarakat luas.
Lebih lanjut, ke-36 organisasi tersebut meminta Menteri Koordinator Perekonomian untuk membatalkan Surat Deputi tersebut dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja. Jika tidak, organisasi masyarakat sipil akan menempuh upaya hukum lain yang dijamin oleh peraturan perundang-undangan.

Daftar Organisasi Masyarakat Sipil

Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Indonesian Parliamentary Center (IPC), Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) SUMUT, Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Riau, Klinik Keterbukaan Informasi Publik Univ. Islam Indonesia, Perkumpulan Inisiatif, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Greenpeace Indonesia, Perkumpulan HUMA, Yayasan BUMI, PLH Kalimantan Utara, Lembaga Advokasi Lingkungan Hidup Kalimantan Utara (Lalingka), Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), AMAN Bengsibas (Bengkayang, Singkawang, Sambas), Lembaga Bentang Alam Hijau (LemBAH), Perkumpulan Peduli Lingkungan Kalimantan Utara, SAMPAN Kalimantan, Perkumpulan Bantuan Hukum Kalimantan (PBHK), Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Prakarsa Borneo, Yayasan Mitra Insani (YMI), JIKALAHARI Riau, Jaringan Advokasi Lingkungan Kalimantan Timur, JARI Borneo Barat, ELPAGAR Kalimantan Barat, Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO), Lembaga Gemawan Kalimantan Barat, Solidaritas Masyarakat Untuk Transparansi NTB, Lingkaran Advokasi dan Riset (Linkar)s Borneo Kalimantan Barat, KOMIU Sulawesi Tengah, Yayasan KIPRA  Jayapura, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Medialink.
Contact Person :
Henri Subagiyo (0815 8574 1001)
Ahmad Hanafi (0811 9952 737

Comments